Skip to main content

Percakapanku dengan diri sendiri

Hari-hari belakangan yang sama sekali tidak dapat kumengerti, karena itu sulit sekali mengartikulasikannya, apalagi membaginya dengan orang lain, sahabat dekat sekalipun. 

Maka yang bisa kulakukan hanya ngobrol dengan diri sendiri, kusebut saja dengan Uswah'.


Uswah: Lo baik-baik aja, Swah?

Uswah': Nggak.

Uswah: Mau cerita?

Uswah': Gw bukan nggak mau cerita. Masalahnya gw sendiri juga ga paham apa dan bagaimana ini terjadi, bagaimana menerimanya. Situasinya terlalu pelik, tapi ga hitam-putih juga. Gw ga kenal perasaan gw sendiri. Gw juga ga paham keputusan dia. Gw ga marah tapi juga ga maafin. Lebih-lebih lagi, gw ga paham bagaimana ini ke depannya. Kalau ke depan itu ada.

Uswah: Jadi, apa yang akan lo lakukan?

Uswah': Menelan saja pahitnya. 


Depok, 10 Maret 2021

Comments

Popular posts from this blog

“Saya tidak pernah akur dengan kenangan. Apa yang bisa saya beli darimu?” Tanya saya kepada penjual kenangan

Penjual Kenangan , dan jendela yang menyetia  Saya dan Iwied  telah saling mengenal sejak kami semester satu, itu sekitar 12 tahun lalu. Kami dua tahun satu asrama dan satu fakultas pula, FIB-UI; saya di Sastra Jepang dan Iwied jurusan Sastra Indonesia. Karenanya, sedikit banyak saya mengenalnya secara pribadi, pun tulisan-tulisannya. Saya, Iwied dan Gita —sahabat Iwied, rumah segala kenangan, demikian Iwied menyebutnya di halaman persembahan  Penjual Kenangan —sama-sama suka menulis puisi dan kisah fiksi. Namun dalam perjalanan, saya lebih condong ke (bacaan) non-fiksi, buku referensi, penelitian dan jurnal. Dulu kami bercita-cita, suatu hari kami bertiga akan sama-sama jadi penulis fiksi J   Penjual Kenangan adalah buku Iwied yang pertama kali saya tamatkan. Sebelumnya saya sudah tahu Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)Lulu , tapi menyerah pada halaman-halaman awal. Ini hanya masalah selera. Dalam buku ini, Penjual Kenangan  menawarkan ...

Rumphius, Tukang Sihir, dan Sapu Terbang yang Membawanya ke Negeri Tempat Lada Tumbuh

Seharusnya saya bercerita tentang Rumphius , ilmuwan terhormat kelahiran Jerman yang mengabdi untuk VOC Belanda, tetapi menghabiskan hampir setengah abad hidupnya bekerja di Ambon hingga akhir hayat. Namun, lain kali saja kita bahas ahli botani buta yang tak putus dirundung malang itu. Sekarang saya lebih tertarik dengan keadaan di masa muda Rumphius di abad ke-17, yang ternyata bukan tempat yang menyenangkan untuk menjalani hidup. Dan justru itulah tuas pengungkit yang begitu kuat melemparkan Rumphius ke—mengutip frase di masa itu yang berarti “minggat meninggalkan rumah”—suatu tempat di mana lada tumbuh: Hindia. Pada 1669, dengan dorongan untuk mencatat kekejaman  Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648)  di wilayah yang kini merupakan negara Jerman,  Hans Jakob Christoffel von Grimmelshausen (?1622-1676) menuliskan  Der Abentheurliche Simplicissimus Teutsch.  Kelak, novel tersebut dianggap sebagai karya sastra terbaik Jerman di abad ke-17. Isinya berpusa...

Bawang merah goreng

 Ibu protes keras karena aku menuang banyak sekali bawang merah goreng di atas semangkuk indomiku. "Kenapa sih nggak boleh, aku besok nggak di sini lagi, lho!" aku merajuk. Ibu tertawa. Dibiarkannya aku menghabiskan setengah toples bawang merah goreng di hari terakhirku di rumah. Banyuwangi, 12 Januari 2021 Day 1 #ToThe1Challenge