"Alasan lain mengapa banyak adat dan pranata tampak misterius adalah karena kita telah diajari untuk menjunjung tinggi penjelasan "spiritual" yang rumit atas fenomena kebudayaan, alih-alih penjelasan yang membumi [yang] terbangun dari soal perut, seks, energi, angin, hujan, dan fenomena lain yang biasa dan teraba." -- Marvin Harris, dalam pembatas buku Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir. Menjawab Teka-Teki Kebudayaan. Baru kali ini saya mendapati satu kalimat yang dikutip pada pembatas buku meringkas isi seluruh buku. Pramoedya pernah menulis, "Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya." Sungguh saya setuju, baik dengan antropolog Marvin Harris maupun dengan Pram. Sering kita mendengar konflik antarkampung dan antarnegara, berbalut perang ideologi, agama, atau harga diri suatu bangsa, setelah ditelisik ternyata hanya rebutan sumber daya alam, rebutan pasar, dan di level kampung, biasanya urusan asmara saja. Saya menyebut ...